Ghasarma oknum kepala program studi (kaprodi) fakultas ekonomi dari universitas Sriwijaya angkat bicara

Palembang279 Dilihat

Palembang, Kabarsumsel.com – Reza Ghasarma oknum kepala program studi (kaprodi) fakultas ekonomi dari universitas Sriwijaya Palembang angkat bicara, yang dilaporkan oleh Mahasiswinya sendiri dengan tuduhan pelecehan seksual via chatting wa.

Dengan di dampingi sang istri, Reza GhasarmaΒ  juga membawa kuasa hukum Ghandi Arius SH.MHum, untuk memberikan keterangan terkait kisruh pelecehan yang terjadi dalam lingkup UNSRI.

Diterangkan langsung oleh kuasa hukum terlapor Ghandi Arius pelecehan via chat yang menjadi bukti pelaporan di sangkal keras oleh Ghandi yang di klaim tidak pernah memiliki nomor tersebut.
“Itu bukan nomor dia, biarkan ranah hukum yang membuktikan”. Ujarnya

Selain itu, Ghandi Arius juga menilai perkara pelecehan yang di tuduhkan kepada kliennya di tegaskan tidak sama dengan yang terjadi di kampus FKIP UNSRI dengan alasan apa yang dilakukan oleh dosen FKIP ada pelecehan secara fisik.

” Kebetulan permasalahan pak Reza ini berbarengan dengan FKIP itu beda persoalannya, karena disana ada tindakan nyata yang dilakukan dosen terhadap Mahasiswi. Nah kalau pak Reza tidak pernah ketemu yang begitu”. Ujarnya (8/12/21)

Ghandi menilai dapat dikatakan pelecehan apabila terdapat kerugian yang di alami korban. Dia mempertanyakan apa yang di alami korban bila memang benar benar terjadi.
“Ini misalnya saja kalau pun benar trauma apa yang di derita oleh korban coba kita berpikir jernih. Apakah dengan membaca pesan itu masa depan akan suram”.

Bahkan iya menduga permasalahan yang menimpa kliennya, di duga Ghandi hanya dibuat untuk menjatuhkan nama baik kliennya.
“persolannya mana yang benar kita serahkan ke ranah hukum,” ungkapnya.

Namun lebih lanjut akibat pemberitaan serta Viralnya tuduhan dengan sebutan predator yang di kenakan terhadap kliennya, di sampaikan Ghandi berpengaruh terhadap sikis yang kian terpuruk dirasakan oleh keluarga kliennya.

” Cuman keluarga pak Reza ini terpuruk secara status sosial, namanya hancur ratingnya tinggi namun negatif”. ungkapnya. (Ettri Puspita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *